Langsung ke konten utama

Postingan

Ruang dan Foto Gibran: Pertarungan Simbolik Meritokrasi dan Kekuasaan

Oleh Hamdan eSA Dalam perpektif Komunikasi, ruang kerja seorang profesor, intelektual, cendekiawan, akademisi, pejabat dengan titel tinggi, dinding bukan sekadar pembatas arsitektural. Dinding merupakan kanvas legitimasi. Pada kanvas itu, tertera deretan ijazah, jajaran sertifikat kepakaran, foto penganugerahan gelar dan prestasi yang terbingkai mewah. Juga berjajar rak-rak yang berdesakan oleh tumpukan buku dan jurnal bereputasi. Setiap benda yang tertempel menyampaikan pesan nirlisan yang konsisten, bahwa ruang ini dibangun di atas fondasi meritokrasi, dedikasi intelektual, serta validasi kualifikasi formal yang sangat panjang. Namun, di salah satu sudut dinding yang paling kasatmata, dalam posisi lebih tinggi, tergantung pula foto resmi Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka sesuai tata cara protokoler kenegaraan. Kehadiran potret tersebut menghadirkan pemandangan yang unik sekaligus enigmatik jika dibaca melalui kacamata ilmu komunikasi visual dan politik. Di satu...
Postingan terbaru

Spiral of Silence dan Diamnya Kaum Intelek

Oleh Hamdan eSA Dalam hiruk-pikuk kehidupan publik, sejatinya, kelompok intelektual memiliki peran paling urgen dalam mengawal opini publik untuk menjaga kualitas diskursus dan memastikan bahwa keputusan-keputusan yang diambil oleh masyarakat dan pemerintah didasarkan pada informasi yang akurat dan analisis yang mendalam. Intelektual menyediakan pengetahuan, mendorong pendidikan dan literasi, mengawasi kekuasaan, menawarkan solusi, dan menggerakkan opini publik. Intelektual membantu membentuk masyarakat yang lebih adil, transparan, dan berpengetahuan. Intelektual harus terus didorong untuk berbicara dan berkontribusi, meskipun menghadapi berbagai tantangan dan risiko, karena peran mereka sangat krusial dalam mengarahkan masyarakat menuju kebaikan bersama. Namun, sejarah dunia telah menunjukkan banyak contoh di mana para intelektual memilih untuk tidak berbicara meskipun mengetahui kebenaran yang perlu disuarakan. Dari masa-masa kelam di bawah rezim otoriter hingga kontroversi s...

Rocky Gerung, Lingkar Kekuasaan, dan Ilusi Perubahan

Oleh: Hamdan eSA Masuknya seorang kritikus vokal ke dalam struktur kekuasaan mungkin dirayakan oleh kelompok pragmatis sebagai sebuah kemenangan taktis. Narasi yang dibangun biasanya seragam. "Saatnya mengubah sistem dari dalam" atau "membawa akal sehat ke jantung pemerintahan." Gelombang pragmatisme ini menemukan momentum paling riilnya ketika pengamat politik dan kritikus paling radikal di Indonesia, Rocky Gerung, resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres RI) pada 2 Oktober 2026. Jika sejarah politik dunia dijadikan sebagai cermin, langkah seperti ini hampir selalu berakhir sebagai sebuah ilusi. Bagi kaum skeptis, lingkar kekuasaan bukanlah panggung baru untuk memperluas dampak kritik, melainkan sebuah mekanisme canggih yang dirancang untuk menjinakkan, menyerap, dan akhirnya melumpuhkan suara-suara yang paling mengganggu jalannya status quo . Esensi dari pemikiran kritis adalah independensi yang radikal....