Oleh: Hamdan eSA Masuknya seorang kritikus vokal ke dalam struktur kekuasaan mungkin dirayakan oleh kelompok pragmatis sebagai sebuah kemenangan taktis. Narasi yang dibangun biasanya seragam. "Saatnya mengubah sistem dari dalam" atau "membawa akal sehat ke jantung pemerintahan." Gelombang pragmatisme ini menemukan momentum paling riilnya ketika pengamat politik dan kritikus paling radikal di Indonesia, Rocky Gerung, resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres RI) pada 2 Oktober 2026. Jika sejarah politik dunia dijadikan sebagai cermin, langkah seperti ini hampir selalu berakhir sebagai sebuah ilusi. Bagi kaum skeptis, lingkar kekuasaan bukanlah panggung baru untuk memperluas dampak kritik, melainkan sebuah mekanisme canggih yang dirancang untuk menjinakkan, menyerap, dan akhirnya melumpuhkan suara-suara yang paling mengganggu jalannya status quo . Esensi dari pemikiran kritis adalah independensi yang radikal....
Oleh: Hamdan eSA Sering kali, teknologi digital dan keyakinan spiritual diposisikan secara berlawanan dalam diskursus modern. Kemajuan sains, kecerdasan buatan, dan komputasi masif dianggap makin menjauhkan manusia dari konsep-konsep metafisika serta realitas keilahian. Padahal, jika diamati dengan jernih dan jujur, hadirnya ekosistem digital hari ini justru menyediakan jembatan rasional yang sangat kuat bagi manusia modern untuk memahami hal-hal yang dahulu kerap dianggap sebatas dogma abstrak atau kisah filosofis yang sulit dicerna oleh akal budi. Manusia pada umumnya kerap mengalami kesulitan kognitif ketika diminta membayangkan bagaimana Tuhan aktif menuliskan catatan kehidupan. Ia tak pernah alpa sedikit pun, bagaimana keputusan hukum yang absolut bisa diambil tanpa bias emosional, atau bagaimana seluruh jejak eksistensi manusia sanggup diukur hingga partikel terkecil ( zarrah ). Kehadiran teknologi informasi modern hari ini bertindak sebagai sarana pembuktian yang konkret d...