Oleh Hamdan eSA Dalam hiruk-pikuk kehidupan publik, sejatinya, kelompok intelektual memiliki peran paling urgen dalam mengawal opini publik untuk menjaga kualitas diskursus dan memastikan bahwa keputusan-keputusan yang diambil oleh masyarakat dan pemerintah didasarkan pada informasi yang akurat dan analisis yang mendalam. Intelektual menyediakan pengetahuan, mendorong pendidikan dan literasi, mengawasi kekuasaan, menawarkan solusi, dan menggerakkan opini publik. Intelektual membantu membentuk masyarakat yang lebih adil, transparan, dan berpengetahuan. Intelektual harus terus didorong untuk berbicara dan berkontribusi, meskipun menghadapi berbagai tantangan dan risiko, karena peran mereka sangat krusial dalam mengarahkan masyarakat menuju kebaikan bersama. Namun, sejarah dunia telah menunjukkan banyak contoh di mana para intelektual memilih untuk tidak berbicara meskipun mengetahui kebenaran yang perlu disuarakan. Dari masa-masa kelam di bawah rezim otoriter hingga kontroversi s...
Oleh: Hamdan eSA Masuknya seorang kritikus vokal ke dalam struktur kekuasaan mungkin dirayakan oleh kelompok pragmatis sebagai sebuah kemenangan taktis. Narasi yang dibangun biasanya seragam. "Saatnya mengubah sistem dari dalam" atau "membawa akal sehat ke jantung pemerintahan." Gelombang pragmatisme ini menemukan momentum paling riilnya ketika pengamat politik dan kritikus paling radikal di Indonesia, Rocky Gerung, resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres RI) pada 2 Oktober 2026. Jika sejarah politik dunia dijadikan sebagai cermin, langkah seperti ini hampir selalu berakhir sebagai sebuah ilusi. Bagi kaum skeptis, lingkar kekuasaan bukanlah panggung baru untuk memperluas dampak kritik, melainkan sebuah mekanisme canggih yang dirancang untuk menjinakkan, menyerap, dan akhirnya melumpuhkan suara-suara yang paling mengganggu jalannya status quo . Esensi dari pemikiran kritis adalah independensi yang radikal....