Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

Retorika Komando dan Implikasinya pada Ruang Publik

Iilustrasi Retorika Komando Oleh Hamdan eSA Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di puncak hierarki politik Indonesia menandai babak baru dalam dinamika komunikasi publik pasca-Reformasi. Sebagai purnawirawan jenderal dengan latar belakang pasukan elite, beliau membawa habitus militer yang sangat pekat ke dalam ekosistem sipil. Fenomena pidato tanpa teks ( unscripted ) yang kerap melahirkan pernyataan spontan —yang oleh sebagian pengamat dinilai "sembrono" atau reduksionis— sebenarnya merupakan cerminan dari budaya komunikasi lapangan yang mengutamakan intuisi seketika ( gut-feeling ). Akan tetapi, ketika logika militer yang monolitik ini diproyeksikan ke dalam ruang publik demokrasi yang plural, dampaknya tidak bisa lagi dilihat sekadar sebagai masalah "salah ucap". Ucapan-ucapan spontan tersebut menciptakan efek riak ( ripple effect ) yang mendalam secara sosio-kultural dan politik, dan secara fundamental mengubah lanskap komunikasi di ruang publik kita har...

Battlefield Communication di Ruang Sipil

Oleh Hamdan eSA Perkembangan teknologi komunikasi militer telah melahirkan sebuah konsep yang dikenal sebagai battlefield communication , yaitu sistem komunikasi yang dirancang untuk mendukung koordinasi pasukan, pengiriman perintah, pertukaran intelijen, dan pengendalian operasi tempur secara cepat dan akurat. Dalam konteks militer, komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai alat penyampaian pesan, tetapi juga sebagai instrumen strategis yang menentukan keberhasilan operasi. Karena itu, budaya komunikasi yang terbentuk di lingkungan militer memiliki karakter yang khas, yakni hierarkis, disiplin, singkat, presisi, dan berorientasi pada tindakan. Menariknya, battlefield communication tidak selalu berhenti di medan tempur. Nilai-nilai komunikasi yang dibentuk dalam organisasi militer sering terbawa ke ruang sosial sipil ketika seorang prajurit beralih memasuki kehidupan masyarakat, birokrasi, organisasi publik, atau dunia politik. Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi bukan se...

Komunikasi Sipil dan Post-Militarism (2)

ilustrasi komunikasi sipil Oleh Hamdan eSA Dampak post-militarism sangat terasa dalam lanskap politik elektoral maupun penegakan hukum hari ini. Ketika negara menghadapi krisis sosial, konflik agraria, atau gejolak politik, alih-alih memperkuat institusi sipil dan mekanisme penegakan hukum yang demokratis-humanis, sering kali justru yang digunakan adalah pendekatan keamanan ( security approach ) yang represif.   Pendisiplinan paksa dinilai jauh lebih efektif ketimbang konsensus deliberatif yang memakan waktu. Kerinduan kolektif akan hadirnya figur “pemimpin tegas” yang muncul secara berkala dalam siklus pemilu adalah bukti empiris bahwa hegemoni budaya Orde Baru belum sepenuhnya luruh dari memori kolektif bangsa ini.   Pada akhirnya, Indonesia kini berdiri di persimpangan jalan yang penuh paradoks. Secara institusional kita adalah negara demokrasi sipil yang diakui dunia, namun secara kultural kita masih memendam hasrat militeristik yang kronis di ruang privat maupun publik. ...