Langsung ke konten utama

Rocky Gerung, Lingkar Kekuasaan, dan Ilusi Perubahan

Oleh: Hamdan eSA

Masuknya seorang kritikus vokal ke dalam struktur kekuasaan mungkin dirayakan oleh kelompok pragmatis sebagai sebuah kemenangan taktis. Narasi yang dibangun biasanya seragam. "Saatnya mengubah sistem dari dalam" atau "membawa akal sehat ke jantung pemerintahan."

Gelombang pragmatisme ini menemukan momentum paling riilnya ketika pengamat politik dan kritikus paling radikal di Indonesia, Rocky Gerung, resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres RI) pada 2 Oktober 2026.

Jika sejarah politik dunia dijadikan sebagai cermin, langkah seperti ini hampir selalu berakhir sebagai sebuah ilusi. Bagi kaum skeptis, lingkar kekuasaan bukanlah panggung baru untuk memperluas dampak kritik, melainkan sebuah mekanisme canggih yang dirancang untuk menjinakkan, menyerap, dan akhirnya melumpuhkan suara-suara yang paling mengganggu jalannya status quo.

Esensi dari pemikiran kritis adalah independensi yang radikal. Seorang kritikus memperoleh legitimasinya di mata publik karena ia berdiri di luar struktur, bebas dari beban kepentingan birokrasi, dan tidak terikat oleh loyalitas buta.

Ketika Rocky Gerung memutuskan untuk menyeberang dan masuk ke kompleks Istana, hubungan organiknya dengan masyarakat sipil langsung menghadapi ujian berat. Kekuasaan tidak pernah membeli sebuah kritik untuk mengubah dirinya. Kekuasaan merangkul kritikus untuk mengamankan kenyamanannya sendiri melalui proses yang dalam sosiologi politik disebut sebagai kooptasi.

Dengan memberikan jabatan formal, pemerintah berhasil mengubah "kebisingan" yang berbahaya di ruang publik menjadi sekadar "bisikan" tertutup di ruang rapat Wantimpres yang sangat mudah diabaikan.

Rocky mungkin mengklaim bahwa tindakannya hanyalah perpindahan posisi teknis dengan tetap membawa prinsip radical break. Namun, ia melupakan bahwa etika jabatan dan protokol kerahasiaan negara secara otomatis akan memotong lidah tajamnya di hadapan publik.

Skeptisisme ini bukan tanpa dasar emosional, melainkan sebuah kesimpulan logis yang didukung oleh lembaran hitam sejarah global. Dua kasus paling parah di dunia berikut menunjukkan bagaimana para pemikir besar yang awalnya begitu perkasa di luar, menjadi sama sekali tidak berdaya dan justru ikut melegitimasi kerusakan setelah masuk ke dalam lingkar kekuasaan:

Kasus pertama yang paling tragis adalah perjalanan hidup Miguel de Unamuno, seorang filsuf, sastrawan, dan rektor universitas terkemuka di Spanyol pada awal abad ke-20. Unamuno dikenal sebagai menara api intelektual yang tanpa takut selalu menyerang kebobrokan politik negaranya dari luar sistem. 

Sayangnya, ketika Perang Sipil Spanyol pecah pada tahun 1936, ia terjebak dalam pragmatisme. Ia memilih mendukung pemberontakan militer pimpinan Jenderal Francisco Franco dengan harapan bahwa kedisplinan militer bisa menyelamatkan peradaban Spanyol. Sebagai imbalan, ia diberikan kembali posisi terhormat di dalam sistem pengaruh rezim.

Apa yang terjadi kemudian adalah horor bagi nuraninya. Unamuno menyaksikan bagaimana fasisme Franco mulai mengeksekusi rekan-rekan sesama intelektual dan memberangus kebebasan akademik yang dulu ia bela.

Ia mendapati dirinya terkunci, suaranya diredam, dan kehadirannya di kursi kekuasaan justru dipakai oleh fasis sebagai stempel pembenaran bahwa kaum intelektual mendukung mereka.

Di akhir hayatnya, Unamuno mencoba melawan balik, namun ia segera dipecat, dijebloskan ke dalam tahanan rumah, dan meninggal dalam penyesalan mendalam.

Kasus kedua yang tidak kalah parah dalam konteks politik modern adalah Joschka Fischer dan para petinggi Partai Hijau (Die GrĂ¼nen) di Jerman pada akhir era 1990-an. Pada tahun 1970-an hingga 1980-an, Fischer adalah representasi murni dari aktivisme jalanan yang radikal, memimpin demonstrasi massa dan secara konsisten mengkritik militerisme Barat demi menuntut perdamaian mutlak (pasifisme).

Ketika partainya berhasil masuk ke dalam pemerintahan koalisi pada tahun 1998, Fischer diangkat menjadi Wakil Kanselir sekaligus Menteri Luar Negeri Jerman. Ruang kemudi negara yang ia idam-idamkan ternyata adalah jebakan struktural.

Hanya setahun setelah menjabat, Jerman dihadapkan pada krisis Perang Kosovo (1999). Di bawah tekanan geopolitik aliansi NATO dan tuntutan birokrasi, Fischer yang dulunya aktivis anti-war radikal justru menjadi tokoh utama yang menandatangani pengiriman pasukan militer Jerman ke medan perang untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II.

Idealisme puluhan tahun runtuh dalam sekejap demi menjaga stabilitas kursi pemerintahan. Fischer tidak berhasil mengubah watak militeristik negara dari dalam; sebaliknya, negara berhasil memaksa sang kritikus untuk memimpin peperangan.

Dua contoh ekstrem di atas mempertegas kebenaran argumen skeptis. Ketika seorang kritikus masuk ke dalam sistem kekuasaan, terutama dalam komposisi yang minoritas atau bahkan sendirian, ia akan selalu kalah oleh hukum rimba birokrasi. Sistem pemerintahan memiliki antibodi yang sangat kuat untuk menolak perubahan radikal.

Di dalam lembaga seperti Wantimpres yang kini dipimpin Pratikno, Rocky Gerung dikepung oleh total 26 anggota yang didominasi elemen mapan. Ia dikelilingi mantan jenderal, taipan bisnis, hingga politisi senior yang orientasi utamanya adalah menjaga stabilitas mutlak demi jalannya roda pemerintahan Prabowo-Gibran.

Suara kritis yang sendirian tidak akan pernah menjelma menjadi kebijakan. Ia hanya akan menjadi ornamen kosmetik (tokenism) yang dipajang penguasa untuk mengklaim bahwa rezim ini demokratis dan akomodatif.

Kesimpulannya, masuknya Rocky Gerung ke Istana bukanlah fajar baru bagi perbaikan kebijakan negara, melainkan babak baru dari penjinakan nalar kritis. Mengharapkan sistem raksasa yang mapan dapat diubah dari dalam oleh satu orang penasihat adalah bentuk kenaifan politik.

Pada akhirnya, sejarah selalu mencatat hasil yang sama. Bukan kritikus yang berhasil mewarnai sistem dengan idealismenya, melainkan sistem yang selalu berhasil melunturkan warna asli sang kritikus hingga ia menjadi tak berdaya, tumpul, dan kehilangan panggung sejatinya di hati rakyat. Lingkar kekuasaan adalah makam bagi pemikiran kritis.

Rea Barat, 3 Oktober 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...