Langsung ke konten utama

Postingan

Komunikasi Sipil dan Post-Militarism (2)

ilustrasi komunikasi sipil Oleh Hamdan eSA Dampak post-militarism sangat terasa dalam lanskap politik elektoral maupun penegakan hukum hari ini. Ketika negara menghadapi krisis sosial, konflik agraria, atau gejolak politik, alih-alih memperkuat institusi sipil dan mekanisme penegakan hukum yang demokratis-humanis, sering kali justru yang digunakan adalah pendekatan keamanan ( security approach ) yang represif.   Pendisiplinan paksa dinilai jauh lebih efektif ketimbang konsensus deliberatif yang memakan waktu. Kerinduan kolektif akan hadirnya figur “pemimpin tegas” yang muncul secara berkala dalam siklus pemilu adalah bukti empiris bahwa hegemoni budaya Orde Baru belum sepenuhnya luruh dari memori kolektif bangsa ini.   Pada akhirnya, Indonesia kini berdiri di persimpangan jalan yang penuh paradoks. Secara institusional kita adalah negara demokrasi sipil yang diakui dunia, namun secara kultural kita masih memendam hasrat militeristik yang kronis di ruang privat maupun publik. ...

Komunikasi Sipil dan Post-Militarism (1)

Ilustrasi Komunikasi Sipil Oleh Hamdan eSA .   Hampir tiga dekade setelah terbitnya fajar Reformasi 1998, struktur politik formal Indonesia secara bertahap berhasil dibersihkan dari intervensi langsung militer. Konstitusi telah menegaskan supremasi sipil, dan institusi pertahanan secara resmi ditempatkan di luar urusan politik praktis.   Jika kita coba mengalihkan lensa analisis dari permukaan institusional menuju ke kedalaman kultur interaksi masyarakat sehari-hari, kita akan dihadapkan pada sebuah kontradiksi yang mencemaskan. Indonesia hari ini justru sedang merawat sebuah kondisi kronis yang dapat disebut sebagai post-militarism budaya.   Watak, logika, dan etika militeristik tidak lagi dipaksakan oleh negara atau militer, justru sebaliknya melainkan diadopsi dan dirawat secara sukarela penuh bahagia dalam budaya komunikasi warga sipil sendiri (bottom-up).   Dalam kajian budaya komunikasi, post-militarism (bedakan dengan militerism ) tidak bekerj...

Dari Perjumpaan di Baskom Mandi ke Panggung Terbesar Dunia

Oleh Hamdan eSA Di penghujung 2007, pada ruang ganti Camp Nou, seorang pemuda berusia 20 tahun tampak kikuk memandikan seorang bayi berusia enam bulan. Ia belum menjadi legenda, baru seorang bocah ajaib Barcelona yang mulai dikenal dunia. Namanya Lionel Messi. Sementara, bayi itu bernama Lamine Yamal. Momen itu bukan bagian dari film, bukan pula adegan yang direkayasa untuk iklan. Itu hanyalah sesi foto amal UNICEF. Keluarga Yamal memenangkan undian untuk berfoto bersama pemain Barcelona. Tak ada yang mengira bahwa jepretan kamera Joan Monfort hari itu sedang mengabadikan sebuah cerita yang baru akan dipahami hampir dua puluh tahun kemudian (saat ini). Foto itu kemudian terlupakan. Messi menjelma menjadi pemain terbesar dalam sejarah sepak bola. Delapan Ballon d'Or, trofi Liga Champions, Copa América, hingga akhirnya mengangkat Piala Dunia bersama Argentina. Di sisi lain, bayi yang pernah dimandikannya tumbuh di jalanan Rocafonda, Mataró, dalam keluarga Muslim. Ia belajar menendang...