Langsung ke konten utama

Postingan

Komunikasi Sipil dan Post-Militarism (1)

Ilustrasi Komunikasi Sipil Oleh Hamdan eSA .   Hampir tiga dekade setelah terbitnya fajar Reformasi 1998, struktur politik formal Indonesia secara bertahap berhasil dibersihkan dari intervensi langsung militer. Konstitusi telah menegaskan supremasi sipil, dan institusi pertahanan secara resmi ditempatkan di luar urusan politik praktis.   Jika kita coba mengalihkan lensa analisis dari permukaan institusional menuju ke kedalaman kultur interaksi masyarakat sehari-hari, kita akan dihadapkan pada sebuah kontradiksi yang mencemaskan. Indonesia hari ini justru sedang merawat sebuah kondisi kronis yang dapat disebut sebagai post-militarism budaya.   Watak, logika, dan etika militeristik tidak lagi dipaksakan oleh negara atau militer, justru sebaliknya melainkan diadopsi dan dirawat secara sukarela penuh bahagia dalam budaya komunikasi warga sipil sendiri (bottom-up).   Dalam kajian budaya komunikasi, post-militarism (bedakan dengan militerism ) tidak bekerj...

Dari Perjumpaan di Baskom Mandi ke Panggung Terbesar Dunia

Oleh Hamdan eSA Di penghujung 2007, pada ruang ganti Camp Nou, seorang pemuda berusia 20 tahun tampak kikuk memandikan seorang bayi berusia enam bulan. Ia belum menjadi legenda, baru seorang bocah ajaib Barcelona yang mulai dikenal dunia. Namanya Lionel Messi. Sementara, bayi itu bernama Lamine Yamal. Momen itu bukan bagian dari film, bukan pula adegan yang direkayasa untuk iklan. Itu hanyalah sesi foto amal UNICEF. Keluarga Yamal memenangkan undian untuk berfoto bersama pemain Barcelona. Tak ada yang mengira bahwa jepretan kamera Joan Monfort hari itu sedang mengabadikan sebuah cerita yang baru akan dipahami hampir dua puluh tahun kemudian (saat ini). Foto itu kemudian terlupakan. Messi menjelma menjadi pemain terbesar dalam sejarah sepak bola. Delapan Ballon d'Or, trofi Liga Champions, Copa América, hingga akhirnya mengangkat Piala Dunia bersama Argentina. Di sisi lain, bayi yang pernah dimandikannya tumbuh di jalanan Rocafonda, Mataró, dalam keluarga Muslim. Ia belajar menendang...

Stan, Ego Extension, dan Sepak Bola

Oleh Hamdan eSA Tidak ada seorang yang lahir langsung sebagai fans dari bintang idola. Awalnya, mereka tumbuh sebagai penonton biasa. Menyukai sepak bola sebagaimana orang menyukai hujan sore, secangkir kopi, melirik anak tetangga. Semua berawal dari rasa kagum. Mungkin dari sebuah gol yang menurutnya indah. Atau dari sebuah umpan yang impossible . Atau seorang pemain yang berkali-kali membuat kita berdiri dari duduk sambil berteriak, “Gokil”! Begitulah jalan seorang idola ditemukan penggemarnya. Lalu datang media sosial. Hampir semua hal tentang pemain favorit diketahui secara detil. Kita tahu bagaimana ia berlatih. Kita tahu bagaimana ia merayakan ulang tahun anaknya. Kita tahu mobil apa yang ia kendarai, jam tangan apa yang ia pakai, bahkan ekspresi wajahnya ketika kalah. Dan anehnya, kita tiba-tiba saja merasa sangat dekat dengan dia sang idola itu, padahal dia sendiri bahkan tidak pernah dengar nama kita. Piala dunia sepak bola selalu memperlihatkan perubahan itu dengan sangat te...