Langsung ke konten utama

Postingan

Iman, Takdir Rejeki, dan Corrupt Governance

Oleh: Hamdan eSA Bagi banyak orang, kalimat “rezeki sudah diatur oleh Tuhan” telah menjadi keyakinan dan pegangan hidup yang memberikan ketenangan. Keyakinan ini menanamkan rasa optimis bahwa setiap manusia yang lahir ke bumi sudah dijamin pemenuhan kebutuhan dasarnya oleh Sang Pencipta. Dalam perkembangannya, ketenangan spiritual ini dapat tergoyahkan ketika berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa kehidupan masyarakat berada di bawah kendali pemerintahan –jika tidak ingin disebut kekuasaan– yang korup. Ketika sistem pemerintahan tidak lagi berpihak pada rakyat, tindakan menghalangi rezeki warga negara bukan lagi sekadar soal oknum pejabat yang mencuri uang (korupsi). Bentuknya meluas menjadi kebijakan yang tidak adil, hukum yang tajam ke bawah, hingga penyempitan akses ekonomi bagi rakyat kecil. Pada titik itu, pertanyaan besar muncul menginterupsi. Bagaimana seseorang bisa tetap percaya pada takdir rejeki dari keadilan Tuhan jika seluruh sistem di dunia nyata dirancang untuk me...

Antara Teks dan Konteks: Problem Makna Melihat Hilal dalam Islam Kontemporer

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Perdebatan mengenai penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri selalu berulang setiap tahun. Menghadirkan terus-menerus ketegangan klasik antara teks dan konteks dalam praktik keagamaan Islam. Mendebatkan “hilal” seakan menjadi ritual penting menyambut Ramadhan dan Syawal. Setara pentingnya dengan ibadah puasa dan shalat Id itu sendiri. Di satu sisi, terdapat dorongan untuk mempertahankan kesetiaan pada teks hadis dari Nabi Muhammad yang menyatakan, “berpuasalah karena melihat hilal.” Di sisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menawarkan cara yang jauh lebih akurat dalam menentukan posisi bulan tanpa harus bergantung pada pengamatan langsung. Ketegangan ini bukan sekadar persoalan metode, melainkan mencerminkan problem yang lebih dalam. Bagaimana umat Islam memaknai tanda-tanda agama di tengah perubahan zaman. Secara konseptual, hilal adalah tanda alam ( sign ) yang berfungsi sebagai indikator masuk dan berakhirnya wak...

Ramadhan sebagai Proses Persuasi Spiritual

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Pada pembahasan sebelumnya puasa dipahami sebagai proses transformasi psikologis yang terjadi melalui paparan pesan dan pengalaman selama Ramadhan. Esai kali ini akan melihat bagaimana perubahan tersebut sebenarnya bekerja sebagai proses persuasi. Perubahan sikap tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui mekanisme komunikasi yang secara perlahan memengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertindak. Dalam konteks ini, Ramadhan dapat dilihat bukan hanya sebagai pengalaman spiritual, tetapi juga sebagai proses persuasi yang berlangsung secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kajian psikologi komunikasi, perspektif ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Carl Hovland yang meneliti bagaimana pesan dapat mengubah sikap manusia. Hovland menunjukkan bahwa persuasi tidak hanya bergantung pada isi pesan, tetapi juga pada sumber pesan, cara penyampaian, dan kondisi audiens. Jika ketiga unsur ini bekerja secara efektif, maka kemungkinan peru...