Langsung ke konten utama

Postingan

Antara Teks dan Konteks: Problem Makna Melihat Hilal dalam Islam Kontemporer

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Perdebatan mengenai penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri selalu berulang setiap tahun. Menghadirkan terus-menerus ketegangan klasik antara teks dan konteks dalam praktik keagamaan Islam. Mendebatkan “hilal” seakan menjadi ritual penting menyambut Ramadhan dan Syawal. Setara pentingnya dengan ibadah puasa dan shalat Id itu sendiri. Di satu sisi, terdapat dorongan untuk mempertahankan kesetiaan pada teks hadis dari Nabi Muhammad yang menyatakan, “berpuasalah karena melihat hilal.” Di sisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menawarkan cara yang jauh lebih akurat dalam menentukan posisi bulan tanpa harus bergantung pada pengamatan langsung. Ketegangan ini bukan sekadar persoalan metode, melainkan mencerminkan problem yang lebih dalam. Bagaimana umat Islam memaknai tanda-tanda agama di tengah perubahan zaman. Secara konseptual, hilal adalah tanda alam ( sign ) yang berfungsi sebagai indikator masuk dan berakhirnya wak...

Ramadhan sebagai Proses Persuasi Spiritual

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Pada pembahasan sebelumnya puasa dipahami sebagai proses transformasi psikologis yang terjadi melalui paparan pesan dan pengalaman selama Ramadhan. Esai kali ini akan melihat bagaimana perubahan tersebut sebenarnya bekerja sebagai proses persuasi. Perubahan sikap tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui mekanisme komunikasi yang secara perlahan memengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertindak. Dalam konteks ini, Ramadhan dapat dilihat bukan hanya sebagai pengalaman spiritual, tetapi juga sebagai proses persuasi yang berlangsung secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kajian psikologi komunikasi, perspektif ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Carl Hovland yang meneliti bagaimana pesan dapat mengubah sikap manusia. Hovland menunjukkan bahwa persuasi tidak hanya bergantung pada isi pesan, tetapi juga pada sumber pesan, cara penyampaian, dan kondisi audiens. Jika ketiga unsur ini bekerja secara efektif, maka kemungkinan peru...

Puasa dan Transformasi Psikologis

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Ramadhan, membuat banyak orang memiliki harapan yang hampir sama, mereka ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Ada yang berharap lebih sabar, lebih mampu menahan emosi, lebih disiplin dalam ibadah, atau lebih peduli terhadap orang lain. Harapan-harapan ini menunjukkan bahwa puasa tidak hanya dipahami sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai proses perubahan diri. Pertanyaaannya, perubahan seperti apa sebenarnya yang terjadi selama Ramadhan? Apakah puasa benar-benar mampu mengubah sikap dan perilaku manusia? Mari kita melihatnya melalui perspektif psikologi komunikasi, khususnya teori perubahan sikap yang dikembangkan oleh Carl Hovland. Dalam penelitiannya tentang komunikasi persuasif, Hovland menjelaskan bahwa perubahan sikap manusia sering terjadi melalui proses komunikasi yang berulang, di mana pesan-pesan tertentu secara terus-menerus memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak. Selama satu Ramadhan penuh, individu ...