Langsung ke konten utama

Postingan

Religiusitas Digital: Antara Iman dan Simulasi

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Di era media sosial, hampir semua hal dapat dibagikan, termasuk pengalaman beragama. Doa direkam atau ditulis, ceramah dipotong menjadi video pendek, momen haru diabadikan, refleksi pribadi diunggah. Agama tidak lagi hanya dijalani sebagai “pengamalan sadar”, tetapi juga dikomunikasikan. Di ruang inilah pemikiran Jean Baudrillard menjadi relevan. Baudrillard berbicara tentang simulasi, yakni keadaan ketika sesuatu tidak lagi sekadar mewakili kenyataan, tetapi secara perlahan menggantikannya. Dalam konteks religiusitas digital, yang beredar di layar kita bukan pengalaman iman itu sendiri, melainkan gambarnya, tandanya, versinya yang sudah dikemas. Kita melihat potongan doa, cuplikan tangis, kisah hijrah, kutipan ayat dengan latar musik menyentuh. Semua itu adalah bentuk komunikasi. Tidak ada yang salah dengan membagikan pengalaman spiritual. Namun persoalannya muncul ketika bentuk yang dibagikan itu mulai menjadi standar tentang; seperti apa ...

Medium Kini Menjadi Arsitek Iman

Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Dalam pemikiran Marshall McLuhan, medium bukan sekadar saluran penyampai pesan, tetapi ia menjadi lingkungan yang membentuk cara manusia merasakan dan memahami realitas. Di era digital, medium tidak lagi berdiri di belakang iman sebagai alat bantu penyebaran dakwah. Ia tampil di depan sebagai arsitek yang merancang ruang pengalaman religius itu sendiri. Struktur platform, logika algoritma, dan budaya visual tidak hanya membawa ajaran agama, tetapi membingkai bagaimana ajaran itu dihayati. Jika dahulu iman tumbuh dalam irama mimbar, majelis, dan tatap muka, kini ia berkembang dalam arsitektur timeline, notifikasi, dan distribusi digital yang membentuk pola perhatian, otoritas, serta cara umat memaknai keberagamaan. Dakwah di masjid bertumpu pada kehadiran fisik, suasana kolektif, dan ritme waktu yang relatif lambat. Ia mengandaikan kedekatan spasial dan relasi interpersonal langsung antara mubalig dan jamaah. Sebaliknya, dakwah di...

Ketika Medium Mengubah Makna Ibadah

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Masih terkait dengan pembahasan kita kemarin, Marshall McLuhan mengingatkan bahwa medium bukan sekadar saluran yang netral. Ia adalah lingkungan yang membentuk cara manusia merasakan, berpikir, dan memaknai pengalaman. Ketika ia mengatakan the medium is the message , yang dimaksud bukanlah isi pesan menjadi tidak penting, melainkan bahwa struktur medium itu sendiri mengubah makna pesan yang disampaikannya. Dalam konteks ibadah, pernyataan ini menjadi sangat relevan. Secara tradisional, ibadah berlangsung dalam ruang yang relatif stabil: masjid, rumah, majelis taklim, atau ruang sunyi pribadi. Medium utamanya adalah kehadiran langsung. Di sana suara terdengar tanpa pengeras digital, tubuh yang berdiri sejajar dalam saf, tatap muka antara guru dan murid. Komunikasi yang terjadi bukan hanya verbal, tetapi juga gestural, atmosferik, dan simbolik. Keheningan, jarak fisik, bahkan bau ruang menjadi bagian dari pengalaman makna. Sayangnya ketika ibada...