Langsung ke konten utama

Postingan

Epistemologi Klik: Cara Baru Manusia Mengetahui di Era Digital

Oleh: Hamdan eSA Apakah manusia modern masih mencari kebenaran, atau sekadar mengklik yang paling menarik? Pertanyaan ini menandai pergeseran mendasar dalam cara manusia memperoleh pengetahuan pada era digital.  Jika di masa lalu pengetahuan dicapai melalui proses berpikir, membaca, meneliti, dan berdialog secara mendalam, kini pengetahuan sering hadir dalam bentuk instan — hanya sejauh satu klik di layar. Tindakan klik bukan lagi sekadar gerakan jari di atas gawai, melainkan simbol dari perubahan epistemik. Sebentuk cara baru manusia “mengetahui” sesuatu di tengah derasnya arus informasi. Kita hidup dalam masyarakat yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagai masyarakat simulakra — dunia di mana representasi menggantikan realitas. Dalam konteks ini, klik menjadi gerbang bagi simulasi pengetahuan. Manusia modern percaya ia mengetahui sesuatu karena telah mengklik tautan, membaca unggahan, atau menonton video pendek, meskipun tanpa proses validasi rasional ataupun pemahaman mendalam....

Kita dan Short Video

  Oleh: Hamdan eSA Di tengah derasnya arus informasi dan derasnya kompetisi atensi, masyarakat hari ini hidup dalam zaman yang ditandai oleh kecepatan ( speed y ) dan keringkasan ( b revity ) . Kita menyaksikan sebuah pergeseran besar dalam kebudayaan, yakni; orang lebih tertarik menonton potongan video berdurasi ringkas ketimbang membaca artikel panjang, mendengarkan ceramah utuh, atau menyimak diskusi mendalam. Fenomena ini bukan sekadar tren media sosial, melainkan representasi dari karakteristik zaman yang bisa disebut sebagai era instan, visual, dan algoritmik , sebuah masa di mana kecepatan mengalahkan kedalaman dan impresi menggeser refleksi. Video ringkas , seperti yang beredar di TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, atau Facebook Stories , bagaikan gula digital yang mengaktifkan dopamin dengan cepat di dalam otak. Ia mudah dikonsumsi, ringan, menyenangkan, dan seringkali minim tuntutan intelektual. Tidak membutuhkan konsentrasi panjang, tidak menuntut komitmen serius...
  andankji.com--Polewali Mandar – Pusat Kajian Islam Inklusif menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) sebagai salah satu tahapan penting dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Fasilitasi Pondok Pesantren di Kabupaten Polewali Mandar. Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2025 ini, dihadiri oleh perwakilan Pondok Pesantren se-Kabupaten Polewali Mandar serta dua anggota DPRD setempat. Forum diskusi ini tidak hanya menjadi media sosialisasi, tetapi juga bagian dari proses pengambilan masukan dan penyempurnaan naskah akademik sebelum Ranperda ini dibahas lebih lanjut di tingkat legislatif. Kehadiran anggota DPRD, Rudi dan Abdul Muin, dalam forum tersebut memberikan sinyal positif bagi segera terwujudnya payung hukum bagi pesantren di daerah itu. Dalam sambutannya, Rudi yang merupakan salah satu fraksi inisiator Ranperda, menegaskan komitmen dewan untuk mengesahkan Perda Pesantren dalam waktu dekat. "Perda Pesantre...