Langsung ke konten utama

Postingan

Manipulasi Moral dalam Beragama

Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)   Di sebuah desa kecil, hidup seorang lelaki bernama Pak Hisam. Ia dikenal sebagai sosok yang paling rajin beribadah. Azan belum berkumandang, ia sudah di masjid. Ia selalu berada di barisan depan saat shalat berjamaah, rajin bersedekah, dan sering memberikan ceramah agama di masjid. Ia pun sering menasihati orang-orang di kampungnya, terutama para anak muda yang ia anggap mulai "longgar" dalam beragama.   Suatu hari, Amir datang dengan wajah ragu-ragu.   "Pak, saya ingin bertanya. Apakah berdosa jika saya tidak bisa puasa penuh karena sakit"?   Pak Hisam menatapnya sejenak, lalu menghela napas. Dengan suara berat, ia berkata, "Nak, bukankah kita diajarkan untuk menahan diri? Orang yang beriman pasti bisa melawan godaan lapar dan haus, kecuali kalau sakitnya benar-benar parah. Tapi kalau hanya lemas sedikit, ya, harus tetap berusaha. Kamu mau jadi Muslim yang kuat atau lemah?"   Amir terdiam. Ia tahu bahwa...

Kitabun Marqum dan Artificial Intelligence

Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Suatu hari, seorang ilmuwan data bernama Dr. Faris sedang mengembangkan sistem kecerdasan buatan (AI) yang mampu mencatat semua aktivitas manusia secara otomatis. Ia percaya bahwa teknologi dapat membantu menciptakan sistem keadilan yang sempurna. "Bayangkan", kata Faris kepada sahabatnya, Andank, seorang pemuda yang mendalami ilmu agama. "Jika kita bisa membuat AI yang mencatat setiap perkataan, tindakan, bahkan niat seseorang, maka kita bisa menghindari ketidakadilan. Tidak ada lagi penjahat yang lolos, dan tidak ada orang baik yang terzalimi"! Andank tersenyum dan bertanya, "jadi kamu ingin membuat Kitabun Marqum versi digital"? Faris terdiam. "Kitabun Marqum"? "Ya", jawab Andank. "Dalam Islam, segala amal manusia dicatat dengan sempurna, tanpa celah, tanpa manipulasi. Malaikat mencatat setiap kebaikan dan keburukan, dan semuanya tersimpan dalam kitab yang tak bisa diubah". F...

Ramadhan dan Kesenjangan Digital

  Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, hiduplah seorang kakek bernama Pak Salim. Ia menjalani Ramadhan dengan cara yang ia kenal sejak kecil—bangun sahur mendengar suara beduk masjid, menunggu adzan maghrib di serambi rumah, dan mengaji dengan mushaf tua yang lembar-lembar halamannya mulai menguning. Suatu hari cucunya, Rafi, datang dari kota untuk menghabiskan Ramadhan bersama. Rafi membawa smartphone canggih dan penuh semangat memperlihatkan berbagai aplikasi yang dapat digunakan untuk aktivitas Ramadhan. "Kakek, sekarang sahur tidak perlu nunggu beduk. Ada alarm otomatis di aplikasi ini! Dan jadwal imsak juga bisa dicek langsung”! Katanya. Pak Salim tersenyum, lalu bertanya, "Lalu bagaimana cara mengetahui kapan hilal muncul”? "Oh, itu juga bisa dicek di media sosial. Ada siaran langsung pengamatan hilal. Bahkan ada aplikasi hilal"! Rafi menjawab dengan bangga. Pak Salim mengangguk pelan. "Lalu, kal...