Langsung ke konten utama

Postingan

Nietzsche, Pasar, dan Tuhan

Sumber Foto: radiandradi.com dan telah dimodifikasi oleh penulis   Oleh: Hamdan eSA Suatu ketika seorang gila membawa sebuah lentera menyala ke tengah pasar dan berseru terus tanpa henti: “Aku mencari Allah! Aku mencari Allah!” Orang-orang di pasar itu menertawakannya remeh.  Tapi si gila malah melompat ke tengah kerumunan dan menatap mereka sambil berteriak: “Ke manakah Allah? Aku memberi tahu kalian. Kita sudah membunuhnya. Ya, kalian dan aku. Kita semua pembunuh. Tetapi bagaimana kita melakukan ini? Bagaimana kita dapat meneguk habis lautan? Siapa yang memberi kita spon untuk menghapus seluruh cakrawala? Apakah yang kita lakukan bila kita melepaskan bumi ini dari mataharinya? Ke manakah bumi bergerak sekarang? Ke manakah kita bergerak? Menjauh dari matahari? Tidakkah kita tenggelam terus-menerus? Mundur, ke samping, maju, ke segala arah? Masih adakah naik atau turun? Tidakkah kita tersesat ke ketiadaan tak terhingga? Tidakkah kita menghirup ruang kosong? Allah sudah ma...

PARPOL DAN FENOMENA PETE-PETE

  Oleh: Hamdan eSA Pete-pete merupakan istilah lokal Sulawesi Selatan, menunjuk pada kendaraan angkot atau mikrolet yang berfungsi sebagai angkutan umum kota, atau mungkin juga antar kota-kota kecil. Dengan itu, pate-pete juga dapat disebut sebagai angkutan publik. Pete-pete memiliki trayek khusus yang telah ditentukan dan karena itu tidak boleh beroperasi di trayek lain.  Berbeda dengan pete-pete, penumpangnya, untuk mencapai tujuan tertentu, dapat merancang perjalanan sendiri sesuai kepentingannya. Ia dapat turun di tengah perjalanan dan naik ke pete-pete lain yang ia inginkan, yang penting siap membayar tarif yang ditentukan pak sopir. Jauh di ruang publik lainnya, partai politik dalam sebuah mekanisme demokrasi menjadi faktor terpenting. Nasib suatu negara bangsa terletak pada partai politik yang ada di dalamnya. Sedangkan nasib sebuah partai terletak pada kualitas kelembagaan parpol tersebut dan kualitas personalnya. Parpol hampir dapat di katakan sebagai satu-satunya ...

kisah seorang anak

Suatu ketika seorang anak yang berwatak buruk, diberikan sekantung (kantungan plastik) penuh paku oleh ayahnya. Ia diminta oleh ayahnya untuk memakukan sebiji paku pada satu tiang pagar di halaman setiap kali ia tidak mampu bersabar atau menahan diri dan membuatnya bermasalah dengan orang lain. Hari pertama ia memaku 37 tiang pagar. Minggu-minggu pertama ia berlatih agar lebih mampu menahan diri, dan minggu-minggu berikutnya jumlah paku yang ia pakai makin sedikit. Ia mendapatkan dirinya bahwa lebih gampang menahan diri dari pada memaku pagar. Lalu tibalah saatnya bahwa ia tidak perlu lagi memaku satupun pagar dan dengan sangat gembira segera ia laporkan hal itu pada ayahnya. Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebiji paku setiap hari setiap kali ia mampu manahan diri atau bersabar. Hari-hari berlalu, dan tiba juga saatnya ia dapat dengan bahagia melaporkan pada ayahnya bahwa semua paku telah tercabut. Sang ayah membawa si anak ke pagar dan berkata; “nak, kau...