Langsung ke konten utama

Postingan

Ponsel Doja Safir

Cerpen hamdan Kumandang azan terbang secepat cahaya memasuki ruang-ruang di seluruh tempat dalam lingkar radius kelurahan Padang Panjang. Kumandang itu selalu berbunyi tepat pada waktunya, tak kurang dan tak lebih sedetik pun. Safir cukup piawai dalam mengatasi tugasnya sebagai penjaga masjid. Ia mampu mengakali agar jam weker yang biasa dipakai untuk memasang alaram waktu, dapat secara otomatis tersambung ke MP3 Player yang memainkan tadarrus alquran. Untuk ukuran kampungnya yang membatasi perkotaan dan pedesaan, hal yang ia lakukan itu sangat luar biasa, apalagi terkait dengan penguasaan teknologi. Warga lain umumnya hanya pemilik produk teknologi, mereka membelinya setelah mengumpul-ngumpul hasil kerja keras sepanjang dan setiap hari. Safir lebih dari itu, dapat mengutak-atik sejumlah produk elektronik, bahkan dapat memodifikasinya sehingga memilki fungsi baru sesuai kebutuhan yang diinginkan. Sebelumnya urusan membunyikan tadarrus...

zairun

cerpen hamdan   “Haaa …. aa ….. aaakhh ….!” “Krrk! Krrk!” Ia memaksakan tubuhnya bangun. Tapi ia masih malas-malas. Sisa kantuk masih tampak pada kuapan dan mata yang redup seolah enggan terbuka. Duduk bersandar di tepi ranjang, menimbang-nimbang ajakan kantuknya untuk baring kembali. Namun cahaya yang menembus ke dalam kamar lebih membuat ia melangkah untuk membuang air kencing yang terbendung dan mencuci wajah secukupnya. Ia baru sadar, saat itu sore baru beranjak. Sore pertama untuk kedatangannya di tempat itu. “Kek, aku mau jalan sore. Boleh kan kakek sendirian di rumah sebentar?” “Sebaiknya tidak sampai keringatan”, kata kakeknya memberi peringatan. “Karena di sini kita hanya bisa mencuci pakaian setelah lima hari pakai. Dokter pun jika tinggal di sini, harus bisa mandi sekali dalam dua hari satu malam.” “Dua hari semalam, atau dua malam sehari?” “Yaah, sama saja. 36 jam. Tiga kali dua belas jam. Bergantian to? Setelah dua hari satu malam, berarti dua malam ...

lagu gemericik

cerpen hamdan Gelap! Belum ada yang tahu sedang di mana. Mereka hanya merasakan diri bergerak, entah terdorong atau tertarik oleh sesuatu. Bergerak maju mengikis dan bahkan menabrak sepanjang dinding lorong-lorong dari trowongan yang serasa tak berujung, panjaaang. Ke kiri langsung ke bawah, ke kanan atas, berkelok-kelok menembus lorong longitudinal vertical, horizontal yang tak beraturan. Cepat. Sangat cepat. Dan dalam sekejab terang telah menyinari. Mereka tetap bergerak menyapu lumut-lumut, menabrak bebatuan, mencari tempat rendah, sambil bersiul dan bernyanyi. Mereka tak pernah menyusun komposisi musik, tapi lagu akrab gemericiknya tetap saja indah. Demikianlah air-air itu. Ketika mengisi tempat yang dalam, suara mereka terhenti. Tenang. Walau rombongan dari belakang tiada terputus bernyanyi gemericik. Di atas genangan, beberapa daun kering berenang laju terbawa angin, bagai perahu nelayan dalam petakan danau. Mereka saling bergantian mengisi tempat itu, berbaur, berpisah, ke...