Langsung ke konten utama

Postingan

kembang cahaya rindu

Cerpen Hamdan Seharusnya di pagi seperti ini titik-titik embun itu telah memantulkan kilau di atas wajah hijau dedaun, rumputan serta kelembutan kembang yang ada di sekitar rumah. Bergoyang dalam simponi sejuk sepoi angin pagi dan memainkan kilau dari sinar matahari pagi. Kemilau yang memainkan warna-warni pelangi dari intipan matahari pagi. Dan ribuan titik embun menjadi kembang cahaya. Seharusnya seperti biasa di pagi seperti ini aku telah menyentuh kembang-kembang itu atau sedikit menggoyangkan daun atau menggetarkan ranting agar titik embun bergulir ke jemariku dan jemariku pun menjadi kelopak kembang cahaya. Siapa pun pasti dapat membayangkan betapa bahagianya jika jemarinya menjadi kelopak dari kembang cahaya. Kupu-kupu dari manakah yang dapat mengenal sari madu kembang cahaya hingga mereka dapat hinggap dan menghisapnya? Harusnya aku telah menyentuhkan kembang itu ke wajahku. Sentuhannya yang lembut serta dingin tak berbau, mengalir kencang melampaui kecepatan c...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

senyum luna

cerpen hamdan Jam delapan malam, baru saja Pak Imran hendak menutup bengkel advertisingnya, tiba-tiba ia kedatangan tamu. Empat orang ibu muda tergesa memesan papan iklan ukuran mini dua lembar, terbuat dari bahan apa saja yang penting tahan lama dari terpaan panas dan hujan, pakai lampu penerang, dan dapat selesai malam itu juga. javascript:void(0) “Bisa saja Bu Leha, tapi ongkosnya dobel.” “Ya sudah, mau dobel, ganda campur, single, yang penting selesai malam ini sesuai pesanan kami. Berapa ongkosnya?” “JiTe”, jawab Pak Imran setelah mengangkat dua jarinya. “OK, dil! Aku tambah ongkos pasangnya,” tegas Bu Leha. Tergesa sekali ibu-ibu itu memesan, bayar kontan, ngomong mereka seperti sedang menjalani masa emerjensi, tanpa senyum, dan mata tampak sedang memendam marah. Pak Imran tidak peduli. Lebih baik pikir orderannya; kerja lembur ongkos lipat ganda, sementara kerjanya cukup mudah dengan peralatan yang telah ia miliki. Bayangan Pak Imran, jika dalam seminggu saja pesanan sem...