Langsung ke konten utama

Postingan

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

senyum luna

cerpen hamdan Jam delapan malam, baru saja Pak Imran hendak menutup bengkel advertisingnya, tiba-tiba ia kedatangan tamu. Empat orang ibu muda tergesa memesan papan iklan ukuran mini dua lembar, terbuat dari bahan apa saja yang penting tahan lama dari terpaan panas dan hujan, pakai lampu penerang, dan dapat selesai malam itu juga. javascript:void(0) “Bisa saja Bu Leha, tapi ongkosnya dobel.” “Ya sudah, mau dobel, ganda campur, single, yang penting selesai malam ini sesuai pesanan kami. Berapa ongkosnya?” “JiTe”, jawab Pak Imran setelah mengangkat dua jarinya. “OK, dil! Aku tambah ongkos pasangnya,” tegas Bu Leha. Tergesa sekali ibu-ibu itu memesan, bayar kontan, ngomong mereka seperti sedang menjalani masa emerjensi, tanpa senyum, dan mata tampak sedang memendam marah. Pak Imran tidak peduli. Lebih baik pikir orderannya; kerja lembur ongkos lipat ganda, sementara kerjanya cukup mudah dengan peralatan yang telah ia miliki. Bayangan Pak Imran, jika dalam seminggu saja pesanan sem...

kuntum sepatu dea

cerpen hamdan Rerimbun pinus yang biasanya mengalunkan seruling malaikat bila tertiup angin, saat itu diam tak bergerak meskipun tetap saja memancarkan hijau bersama aneka pohonan yang tertata indah memenuhi sepanjang sisi bukit kota. Tak berapa lama, kawanan kabut berlari dari puncak Bawakaraeng dan Lompobattang, turun menyelimuti seluruh kota, bukitan dan rerimbun pohonan. Sekejap. Lalu kota itu berada di atas awan. Kota suatu masa, dimana waktu berjalan tanpa siang, petang dan malam. Hanya ada subuh. Ya, mentari dan rembulan juga terdiam padam. Sore menyubuh di bawah teras sebuah penginapan. Aku pun ikut diam, duduk memandangi hijau rimbunan pohon ketika orang-orang di sekitarku ramai membincang masalah-masalah mereka dengan santai. Masalah yang tak pernah tuntas; tentang Tuhan. Sesekali aku menjawab bila mereka bertanya, atau tertawa mendengar cerita mereka dan akhirnya aku sama sekali tak menghiraukan semuanya. Aku memilih masuk dalam keheningan selimut kabut, bermain diam bersama...