Langsung ke konten utama

Postingan

senyum luna

cerpen hamdan Jam delapan malam, baru saja Pak Imran hendak menutup bengkel advertisingnya, tiba-tiba ia kedatangan tamu. Empat orang ibu muda tergesa memesan papan iklan ukuran mini dua lembar, terbuat dari bahan apa saja yang penting tahan lama dari terpaan panas dan hujan, pakai lampu penerang, dan dapat selesai malam itu juga. javascript:void(0) “Bisa saja Bu Leha, tapi ongkosnya dobel.” “Ya sudah, mau dobel, ganda campur, single, yang penting selesai malam ini sesuai pesanan kami. Berapa ongkosnya?” “JiTe”, jawab Pak Imran setelah mengangkat dua jarinya. “OK, dil! Aku tambah ongkos pasangnya,” tegas Bu Leha. Tergesa sekali ibu-ibu itu memesan, bayar kontan, ngomong mereka seperti sedang menjalani masa emerjensi, tanpa senyum, dan mata tampak sedang memendam marah. Pak Imran tidak peduli. Lebih baik pikir orderannya; kerja lembur ongkos lipat ganda, sementara kerjanya cukup mudah dengan peralatan yang telah ia miliki. Bayangan Pak Imran, jika dalam seminggu saja pesanan sem...

kuntum sepatu dea

cerpen hamdan Rerimbun pinus yang biasanya mengalunkan seruling malaikat bila tertiup angin, saat itu diam tak bergerak meskipun tetap saja memancarkan hijau bersama aneka pohonan yang tertata indah memenuhi sepanjang sisi bukit kota. Tak berapa lama, kawanan kabut berlari dari puncak Bawakaraeng dan Lompobattang, turun menyelimuti seluruh kota, bukitan dan rerimbun pohonan. Sekejap. Lalu kota itu berada di atas awan. Kota suatu masa, dimana waktu berjalan tanpa siang, petang dan malam. Hanya ada subuh. Ya, mentari dan rembulan juga terdiam padam. Sore menyubuh di bawah teras sebuah penginapan. Aku pun ikut diam, duduk memandangi hijau rimbunan pohon ketika orang-orang di sekitarku ramai membincang masalah-masalah mereka dengan santai. Masalah yang tak pernah tuntas; tentang Tuhan. Sesekali aku menjawab bila mereka bertanya, atau tertawa mendengar cerita mereka dan akhirnya aku sama sekali tak menghiraukan semuanya. Aku memilih masuk dalam keheningan selimut kabut, bermain diam bersama...

kupu-kupu kebunku

cerpen hamdan Hatiku benar-benar jatuh tak berdaya, terpikat pada kupu-kupu sejak pertama kali melihat seekor di kebunku. Aku tidak membenci kupu-kupu, bahkan sering melihatnya di banyak tempat. Tapi lain dengan yang satu ini. Ia begitu saja mengalir dengan cepatnya menembus lorong-lorong saraf, menampik akal sehat, melewatinya dan langsung memenuhi ruang batinku. Kedatangan yang tiba-tiba itu tentu saja mendebarkan hati dengan sangat kencang. Aku seperti mendapat serangan pasukan Archilles yang keluar dari Kuda Troy setelah menyelinap masuk ke istana. Lalu perlahan pula ia mengalir ke ruang imajinasiku, memenuhinya dan bahkan membungkusnya dengan beludru sayapnya. Ah… getaran itu, detaknya semakin kencang. Lebih kencang dari serangan sinar matahari terhadap subuh. Apa yang telah terjadi? Aku tak pernah berhasil setiap kali mencoba menyusun kata untuk menjelaskan. Waktu itu aku sedang di rumah, tepatnya di belakang kamarku menikmati pagi yang menyisahkan kesejukan hujan yang d...