Langsung ke konten utama

Postingan

waktu meneror

Cerpenku “Beritahulah aku tentang waktu!” “Waktu? Waktu hanyalah siang, lalu malam, dan pergantiannya. Di antara itu ada subuh dan pagi, ada sore dan petang. Begitu seterusnya; sehari, seminggu, sebulan, setahun, seabad, sezaman, dan sejarah”. Mendapat jawaban, dengan wajah tanpa reaksi, penanya segera saja berterima kasih dan pergi berlalu. Menghilang dalam kesibukan pagi kota. Hilang seperti tanpa waktu. Sementara orang yang ia tanya tinggal melongok dengan mulut ternganga diganjal rasa aneh. Aneh! Tapi kemudian ia belok juga ke kantornya. Ia seorang karyawan, orang kantoran, budak atau mungkin juga majikan sang waktu. Peduli amat. Mungkin yang bertanya tadi seorang supervisior publik di kantor ini, pikirnya. Mungkin dengan cara begitu; menyindir tentang waktu, ia bermaksud menegur atau membina karyawan yang kurang disiplin. Ah, jika benar, itu hanya sebatas cara dan strategi yang sedikit halus, yang berarti juga muslihat. Benar! Muslihat! Manajemen kan juga muslihat. Siapa yang bisa...

kampung dalam shalatku

Cerpenku “Allahu akbar Allahu akbar! …” Lafaz-lafaz iqamat dari sebuah mushallah kecil rumah sakit itu mengawali shalat jama’ah Maghrib. Aku dan dua teman terperangah dengan waktu yang terasa semakin cepat melalui menara mungil sebuah mushallah. Lafaz dari speaker menara betul-betul telah mendapatkan otoritasnya. Seperti di tempat lain, dari menara-menara masjid yang berlimpah, speaker masjid juga telah mendapatkan otoritas yang luar biasa, dari dan untuk sebagian ummat Islam. Tapi sebenarnya kini, apalagi di kota-kota terbilang maju, lafaz-lafaz dari speaker masjid lebih berfungsi sebagai klakson yang sengaja dibunyikan untuk meminta sedikit peluang lewat. Ya, semacam interupsi jalanan. “Ash-shalatu jaami’ah rahimakumullah! Luruskan shaf dan rapatkan!” Diskusi kami dibuatnya terputus, diskusi yang kami sendiri sudah lupa awal dari mana dan untuk apa, diskusi tentang birokrasi dinegeri ini. Birokrasi kacau, untuk tidak menyebut hancur. Hampir setengah jam ngobrol kami be...

BINTANG KECIL; SEPI

hamdan tuhan yang menyiapkan bijian mentari bulan dan bintang untuk memberi cahaya jika engkau izinkan sempatkan aku mengembarai sepi di belantara yang gila ini cukuplah aku sebiji bintang kecil yang mengedipkan sunyi pada gulitanya malam hadirnya tidak mengusik mentari bulan gemintang lainnya tapi secukup membantu benderangnya malam kata bintang kecil; “tidak semua kita harus menjadi mentari atau bulan” bintang kecil tak pernah menanggal lepas kedip kemuning dan senyum mungil sepinya atau menenteng bonceng pergi untuk sekedar mencicipi rasa cakrawala cahaya bintang kecil sepi tasyakur dan ikhlas dengan keadaannya; diselimut gelap dicibir kabut diejek mendung disambar petir dipadam siang dirayu bulan ia tetap bintang kecil kedip kemuning senyum mungil sepinya tak perlu risau ia akan selalu trima dan beri senyum dalam zikir kerlip bintang kecil sepi; hanya yang mendekatnya yang dapat melihatnya besar :seperti juga tuhan cahaya kemuliaan; tak terbatas ruang waktu yang berubah tak ada leb...